TRIBUNMETRO.COM, JAKARTA — EB Batik, produsen batik asal Cirebon, Jawa Barat, memanfaatkan ajang Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 untuk memperkenalkan inovasi batik dengan memadukan beragam inspirasi motif Nusantara dan karakter khas batik pesisir Cirebon.

Director EB Batik, Hisyam Suleiman, mengatakan keikutsertaan dalam KKI 2026 menjadi kesempatan bagi pihaknya untuk memperluas pengenalan batik Cirebon sekaligus membuka peluang pasar baru. Hal itu disampaikannya saat ditemui awak media di booth EB Batik pada hari pertama KKI 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Hisyam, EB Batik merupakan usaha keluarga yang telah berkiprah sejak 1978. Selama hampir lima dekade, perusahaan tersebut konsisten mengembangkan produksi batik cap dan batik tulis dengan mempertahankan karakter batik asal Cirebon.

“Batik kami berasal dari Cirebon dan sudah berjalan sejak 1978. Selama sekitar 48 tahun, kami memproduksi batik cap dan batik tulis. Awalnya, produksi kami cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan ekspor di kawasan Asia Tenggara,” kata Hisyam.

Dalam perkembangannya, orientasi pasar EB Batik kini semakin kuat di dalam negeri. Hisyam menyebut sekitar 70 hingga 80 persen penjualan perusahaan saat ini berasal dari pasar domestik, sedangkan pasar ekspor antara lain mencakup Jepang dan Kanada.

Pada KKI 2026, EB Batik membawa ratusan pilihan motif. Salah satu konsep yang mendapat perhatian adalah pengembangan motif Nusantara yang diolah menggunakan sentuhan khas batik pesisir Cirebon.

“Kami membawa motif seluruh Nusantara sebagai representasi Indonesia, tetapi tetap menggunakan style atau karakter batik pesisir Cirebon. Jadi, motif yang mungkin dikenal berasal dari daerah lain kami olah dengan gaya Cirebon. Itu menjadi salah satu keunikan kami,” ujar Hisyam.

Konsep tersebut menjadi strategi EB Batik untuk memperkenalkan identitas Cirebon melalui pendekatan yang lebih luas. Dengan mengadaptasi berbagai inspirasi motif daerah ke dalam karakter Cirebon, perusahaan berupaya menciptakan produk yang tetap memiliki identitas lokal sekaligus relevan dengan selera pasar.

Selain mengeksplorasi motif Nusantara, EB Batik juga memberi perhatian khusus terhadap pengembangan batik untuk laki-laki. Hisyam menilai pasar batik pria masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama melalui motif yang memiliki kesan kuat dan elegan.

“Motif Cirebon juga bisa sangat menarik untuk laki-laki. Batik untuk laki-laki memiliki potensi yang besar dan ingin kami kembangkan,” tuturnya.

Dari sisi produksi, EB Batik melibatkan tenaga kerja internal serta pengrajin rumahan yang menjadi bagian dari rantai produksinya. Untuk tenaga kerja di dalam perusahaan, jumlahnya berkisar 10 hingga 15 orang, sementara produksi tertentu juga dikerjakan oleh para pengrajin di rumah.

Meski demikian, keberlanjutan sumber daya manusia menjadi tantangan tersendiri bagi industri batik. Hisyam mengatakan regenerasi pengrajin masih menjadi pekerjaan penting, khususnya untuk mempertahankan keterampilan batik tulis yang membutuhkan kemampuan teknis dan ketelitian tinggi.

“Regenerasi memang menjadi tantangan. Untuk keterampilan tertentu dalam batik tulis, kami masih cukup sulit mendapatkan pengrajin yang memiliki kemampuan tersebut,” ungkapnya.

Karena itu, Hisyam menilai pelatihan dan dukungan terhadap pengrajin perlu terus dilakukan. Dukungan pemerintah berupa peralatan, bahan produksi maupun pelatihan dinilai dapat membantu pelaku industri mempertahankan keberlangsungan usaha sekaligus menyiapkan generasi penerus.

Sementara itu, keberadaan KKI 2026 dinilai memberikan manfaat langsung bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Ajang tersebut mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli, mitra bisnis, serta membuka peluang perluasan jaringan pasar.

“Event seperti KKI harus kita dukung karena sangat membantu kami sebagai pengusaha dan pengrajin. Kegiatan ini mempertemukan penjual dan pembeli dalam satu tempat. Produk yang ditampilkan juga melalui proses kurasi sehingga pembeli bisa mendapatkan barang yang berkualitas dengan harga yang baik,” jelas Hisyam.

Melalui partisipasinya dalam KKI 2026 yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026, EB Batik berharap batik Cirebon semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya mengandalkan motif klasik, EB Batik juga ingin menunjukkan bahwa karakter batik pesisir Cirebon dapat dikembangkan melalui eksplorasi motif Nusantara dan desain yang menyasar pasar busana laki-laki.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya EB Batik menjaga warisan batik Cirebon, memperluas jangkauan pasar, meningkatkan inovasi produk, serta mendukung keberlanjutan regenerasi pengrajin batik di tengah perkembangan industri kreatif nasional.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *