TRIBUNMETRO.COM, JAKARTA — Refa Gallery by Fahmi, pelaku usaha kreatif asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, terus mendorong kain Sasirangan agar semakin dikenal di pasar nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan motif, proses produksi handmade, serta pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan produksi.
Owner Refa Gallery by Fahmi, Fahmi, mengatakan usahanya bergerak di bidang pembuatan kain khas Kalimantan Selatan dengan fokus mengembangkan Sasirangan agar memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.
“Kita bergerak di bidang pembuatan kain Kalimantan Selatan. Sejak 2020, kami mulai bergerak ke pasar nasional agar Sasirangan Kalsel bisa lebih dikenal luas,” ujar Fahmi saat ditemui awak media di booth Refa Gallery by Fahmi pada hari pertama Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (20/8/2026).
Menurut Fahmi, perjalanan mengembangkan produk Sasirangan juga dilakukan melalui proses kurasi dan pembinaan. Produk yang dihasilkan harus memiliki kualitas, keunikan, serta perkembangan usaha yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan, proses produksi Refa Gallery by Fahmi masih mengandalkan keterampilan tangan. Mulai dari membuat gambar motif, menjelujur, memberikan pewarnaan hingga membuka kembali bagian kain setelah proses pewarnaan dilakukan secara manual.
“Tidak ada proses yang menggunakan mesin. Semuanya menggunakan tangan, mulai dari melukis, menjelujur untuk motif, memberikan pewarnaan sampai dibuka kembali setelah diwarnai,” jelasnya.
Selain mempertahankan teknik tradisional, Refa Gallery by Fahmi juga memberikan dampak sosial melalui pelibatan ibu-ibu dalam proses produksi. Mereka membantu mengerjakan bagian tertentu, terutama ketika permintaan produk meningkat.
Fahmi menuturkan, pemberdayaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan usahanya. Para ibu yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan dapat memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam proses produksi.
“Kalau pesanan sedang banyak, mereka ikut membantu produksi. Ketika pesanan tidak terlalu ramai pun, tetap ada dampak sosial karena kita memberikan pekerjaan kepada ibu-ibu yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan,” katanya.
Dalam pengembangan motif, Fahmi mengatakan Refa Gallery tidak terpaku pada satu desain tertentu. Inspirasi dapat datang dari berbagai hal, seperti daun, bunga maupun unsur alam lainnya, namun tetap mempertahankan pakem dan aturan motif khas Kalimantan Selatan.
Ia juga berupaya menghadirkan motif yang berbeda agar karya Refa Gallery by Fahmi memiliki karakter tersendiri dan tidak sekadar mengikuti motif yang sudah banyak beredar.
Untuk pemasaran, produk Refa Gallery by Fahmi telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Selain mengikuti berbagai pameran, pemasaran juga dilakukan melalui kanal online, marketplace, toko daring, serta website.
Fahmi memilih pola produksi berdasarkan pesanan untuk menjaga kualitas dan menghindari konsumen harus menunggu terlalu lama akibat keterbatasan stok maupun kendala produksi.
“Kami tidak mau membuat stok terlalu banyak. Ketika ada yang memesan, kami produksi sehingga konsumen bisa mendapatkan produk yang sesuai dan tidak harus menunggu karena stok yang tidak pasti,” ujarnya.
Keikutsertaan Refa Gallery by Fahmi dalam KKI 2026 diharapkan dapat membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus memperkenalkan kain Sasirangan kepada masyarakat dari berbagai daerah.
Fahmi berharap dukungan pemerintah terhadap pelaku industri kreatif dan UMKM dapat terus ditingkatkan, terutama di tengah tantangan daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya bahan baku.
“Harapannya ekonomi bisa membaik lagi sehingga daya beli masyarakat meningkat. Kami juga berharap nilai mata uang kita semakin kuat karena ketika melemah, harga bahan baku produksi ikut mahal. Sementara untuk menaikkan harga jual secara drastis juga tidak mudah,” ungkapnya.
Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di JICC, Jakarta. Kehadiran Refa Gallery by Fahmi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi produk kreatif daerah, khususnya kain Sasirangan Kalimantan Selatan, agar semakin dikenal di pasar nasional.
