TRIBUNMETRO.COM, JAKARTA — Kekayaan wastra Kalimantan Timur terus dikembangkan menjadi produk fashion yang relevan dengan gaya hidup masa kini. Salah satu pelaku usaha yang aktif mengangkat potensi tersebut adalah Ratie, owner Ratie dari BI Kaltim, yang menghadirkan busana berbasis kain tradisional dengan sentuhan desain modern, kasual, dan ramah lingkungan.

Upaya tersebut diperkenalkan Ratie dalam ajang Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Pada hari pertama kegiatan, Kamis (20/8), Ratie menjelaskan kiprahnya dalam mengembangkan wastra Kalimantan Timur agar memiliki daya saing lebih luas.

“Saya bergerak di bidang fashion dan mengangkat wastra daerah Kalimantan Timur agar bisa dikenal lebih luas,” ujar Ratie.

Menurutnya, wastra daerah memiliki peluang besar untuk masuk ke pasar fashion modern apabila dikembangkan dengan desain yang sesuai kebutuhan konsumen. Karena itu, produk yang dihadirkan tidak terbatas pada pakaian tradisional, tetapi dikreasikan menjadi beragam busana yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Sejumlah produk yang dipamerkan antara lain jaket, bomber, tunik hingga jaket quilting. Bahkan, beberapa produknya telah berhasil dipasarkan ke luar negeri.

“Kami punya berbagai produk, mulai dari jaket, bomber, tunik dan yang terbaru jaket quilting. Produk ini sudah diekspor dan menggunakan pewarnaan alam,” jelasnya.

Konsep ramah lingkungan menjadi salah satu keunggulan yang dikembangkan Ratie. Dalam proses produksinya, pewarna alami dimanfaatkan dari sejumlah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar, di antaranya daun ketapang dan limbah serbuk kayu ulin.

Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menciptakan produk bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan wastra Kalimantan Timur agar semakin dikenal masyarakat luas.

“Selain mencari keuntungan, tujuan kami adalah memajukan wastra khas Kalimantan Timur agar bisa go nasional bahkan internasional dan memiliki ciri khas tersendiri,” katanya.

Ratie juga berupaya mengubah persepsi bahwa batik dan kain tradisional hanya pantas dikenakan pada acara resmi. Melalui desain yang lebih modern, produk wastra dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk bepergian dan kegiatan santai.

“Kalau dulu batik identik dengan undangan, acara formal atau bekerja, sekarang batik bisa digunakan untuk jalan-jalan dan aktivitas sehari-hari. Karena itu kami kemas dengan desain yang trendy dan casual,” ungkapnya.

Dari sisi pemasaran, produk Ratie telah menjangkau sejumlah daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Batam dan Bangka Belitung. Perluasan pasar juga didukung melalui platform digital, termasuk Shopee, TikTok dan Instagram.

Ratie turut memperkuat fondasi usahanya melalui pengurusan legalitas serta mengikuti berbagai program pembinaan dan kurasi UMKM. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus membuka peluang menuju pasar global.

“Kami menjadi salah satu UKM binaan. Banyak sekali manfaat yang kami dapat, mulai dari kurasi, pelatihan dan berbagai ilmu untuk meng-upgrade produk supaya lebih bagus dan bisa go internasional,” tuturnya.

Selain mengembangkan merek sendiri, Ratie membangun kolaborasi dengan sejumlah pelaku UKM lokal. Kerja sama tersebut dilakukan melalui usaha bersama agar para pelaku UMKM dapat saling mendukung dalam memenuhi permintaan dan meningkatkan kapasitas produksi.

“Saya membentuk usaha bersama dengan beberapa teman-teman UKM. Kami saling bersinergi untuk menerima dan mengerjakan pesanan,” kata Ratie.

Keikutsertaan dalam KKI 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk memperluas pengenalan produk sekaligus membuka peluang pasar baru. Ratie berharap kegiatan serupa terus digelar sehingga semakin banyak UMKM daerah mendapatkan akses promosi dan pengembangan usaha.

“Harapan kami acara seperti ini terus berlanjut karena bisa membantu ekonomi UMKM, meningkatkan penjualan dan memberikan wawasan yang lebih luas kepada masyarakat untuk mencintai produk UKM dan produk dalam negeri,” pungkasnya.

Melalui inovasi desain, pemanfaatan pewarna alami dan penguatan pemasaran digital, Ratie menunjukkan bahwa wastra Kalimantan Timur dapat bertransformasi menjadi fashion modern tanpa meninggalkan identitas budaya. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang bagi wastra daerah untuk semakin kompetitif di pasar nasional hingga internasional.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *