TRIBUNMETRO.COM, JAKARTA — Industri wedding dan MICE terus menunjukkan perannya sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang menghubungkan berbagai sektor usaha. Dari gedung pertemuan hingga katering, dekorasi, tata rias, busana, fotografi, seni dan transportasi, seluruhnya memiliki keterkaitan dalam setiap penyelenggaraan acara.
Melihat besarnya potensi tersebut, Dwi Windyarto, S.H., Ketua Umum ASGEPRINDO (Asosiasi Pengusaha Gedung Pertemuan dan Tempat Resepsi Indonesia), terus mendorong agar industri wedding dan MICE dipandang sebagai salah satu sektor yang memiliki kontribusi ekonomi luas.
Dwi Windyarto bukan sosok baru dalam industri pengelolaan gedung dan penyelenggaraan kegiatan. Ia memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam bidang pengelolaan usaha, gedung pertemuan, pariwisata, kebudayaan, wedding, MICE dan organisasi.
Saat ini, selain menjabat Ketua Umum ASGEPRINDO, ia dipercaya sebagai Founder dan Komisaris PT Grahatama Persada Nusantara yang merupakan bagian dari Graha Group.
Wedding Bukan Sekadar Acara Seremonial
Dwi Windyarto melihat sebuah pesta pernikahan sebagai aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pelaku usaha.
Ketika sebuah pernikahan digelar, aktivitas tidak berhenti pada penggunaan gedung. Kegiatan tersebut membutuhkan layanan katering, dekorasi, tata rias, busana, fotografi, videografi, perlengkapan pesta, transportasi, musik dan berbagai jasa lainnya.
Dalam satu pesta pernikahan, tenaga kerja yang terlibat dapat mencapai lebih dari 50 orang, tergantung skala dan konsep acara.
Besarnya aktivitas wedding juga terlihat dari jumlah penyelenggaraan acara di Jakarta. Berdasarkan data yang disampaikan Dwi Windyarto, setiap Sabtu dan Minggu terdapat sekitar 200 lokasi wedding di berbagai tempat, termasuk gedung pertemuan, hotel, masjid hingga balai desa.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa industri wedding memiliki rantai ekonomi yang panjang. Ketika kegiatan wedding meningkat, peluang usaha bagi UMKM, pekerja kreatif dan penyedia jasa pendukung juga ikut terbuka.
Perspektif tersebut menjadi salah satu dasar Dwi Windyarto dalam mendorong penguatan industri wedding dan MICE melalui ASGEPRINDO.
Pengalaman Panjang di TMII
Pengalaman Dwi Windyarto di bidang pengelolaan fasilitas dan kegiatan masyarakat dibangun selama puluhan tahun.
Taman Mini Indonesia Indah menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan profesionalnya. Ia pernah menjabat sebagai Manajer Gedung Sasono Utomo, Sasono Langen Budoyo dan Sasono Adiguno TMII pada 1988–2016.
Pada 2011–2016, ia juga dipercaya sebagai Pengelola Seluruh Gedung Pertemuan dan Penginapan Area TMII.
Tidak hanya mengelola fasilitas, Dwi Windyarto kemudian mendapat kepercayaan dalam bidang pengembangan unit usaha, informasi budaya dan wisata, hingga posisi organisasi di lingkungan TMII.
Ia menjabat sebagai Koordinator Unit Usaha TMII periode 2016–2019, Manajer Informasi Budaya & Wisata pada 2019–2020, Dewan Pembina Budaya TMII periode 2016–2020 serta Board of Director TMII pada 2021–2022.
Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang luas mengenai hubungan antara gedung pertemuan, pariwisata, budaya, kegiatan masyarakat dan industri kreatif.
Mendorong Kolaborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Dalam kiprahnya, Dwi Windyarto juga menaruh perhatian terhadap pemanfaatan aset pemerintah.
Ia terlibat dalam kerja sama dengan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam pengelolaan aset milik kementerian dan pemerintah daerah.
Menurut pendekatan tersebut, fasilitas pemerintah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertemuan, wedding dan MICE memiliki potensi ekonomi apabila dikelola secara optimal.
Pemanfaatan aset tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan gedung, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi bagi katering, dekorasi, UMKM, pekerja kreatif, penyedia jasa acara dan berbagai sektor pendukung lainnya.
Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi salah satu pendekatan yang terus didorong untuk memperluas manfaat ekonomi dari industri wedding dan MICE.
Memperkuat Ekosistem UMKM
Dwi Windyarto menilai UMKM merupakan bagian penting dari industri wedding. Banyak kebutuhan acara pernikahan justru dipenuhi oleh usaha kecil dan menengah.
Katering, dekorasi, tata rias, busana pengantin, perlengkapan pesta, seni dan musik merupakan contoh bidang yang banyak melibatkan pelaku UMKM.
Dengan demikian, pertumbuhan industri wedding dapat memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan usaha kecil dan menengah.
Pandangan tersebut juga menjadi bagian dari perhatian Dwi Windyarto dalam membangun ekosistem industri yang tidak hanya menguntungkan pemilik gedung atau penyelenggara acara, tetapi juga memberikan manfaat kepada berbagai pelaku ekonomi.
Kiprah Organisasi
Selain ASGEPRINDO, Dwi Windyarto juga tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina ASPEDI (Asosiasi Pengusaha Dekorasi Indonesia).
Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha PUTRI (Perhimpunan Taman Rekreasi Indonesia) periode 2000–2022.
Berbagai pengalaman organisasi tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam membangun jejaring dan kolaborasi di sektor pariwisata, rekreasi, gedung pertemuan, dekorasi, wedding dan industri kreatif.
Pengembangan Bisnis Gedung Pertemuan
Dalam kapasitas sebagai Founder dan Komisaris PT Grahatama Persada Nusantara, Dwi Windyarto turut berperan dalam pengembangan dan pengelolaan usaha gedung pertemuan dan gedung pernikahan.
Sejumlah fasilitas yang tercatat dalam portofolio pengelolaan antara lain Auditorium Gedung E Kementerian Pertanian RI, Auditorium Gedung D Kementerian Pertanian RI, Auditorium Gedung Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), Hall Batavia Gedung Nyi Ageng Serang, Hall Jayakarta Gedung Nyi Ageng Serang, Marina Batavia Grand Ballroom, Gedung SAM Kelapa Gading, Auditorium ISTN, Auditorium BKKBN serta Auditorium MEKTAN.
Beragam fasilitas tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, mulai dari resepsi pernikahan, pertemuan, konferensi hingga kegiatan lainnya.
Mendorong Pemulihan Pascapandemi
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu tantangan terbesar bagi industri penyelenggaraan acara. Pembatasan kegiatan masyarakat membuat gedung pertemuan, wedding organizer, pelaku usaha acara dan UMKM mengalami penurunan aktivitas.
Dalam situasi tersebut, Dwi Windyarto melalui ASGEPRINDO turut mendorong pemulihan industri wedding dan UMKM dengan membangun kembali aktivitas usaha serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah.
Upaya tersebut menjadi bagian dari dorongan untuk menghidupkan kembali sektor yang memiliki efek berantai terhadap banyak bidang usaha.
Ke depan, Dwi Windyarto menempatkan inovasi, kolaborasi dan penguatan ekosistem sebagai bagian penting dalam pengembangan industri wedding dan MICE.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, ia terus mendorong agar sektor wedding, MICE, pariwisata dan ekonomi kreatif dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat kepada dunia usaha, UMKM, pekerja dan masyarakat.
